Cara Allah Menurunkan Wahyu Kepada Para Utusan-Nya

Allah SWT di dalam menurunkan wahyu kepada para Nabi dan Rasul-Nya memiliki dua cara :

1-Melalui perantara Malaikat Jibril AS sebagai pengantar wahyu

Malaikat Jibril yang telah di tugaskan untuk mengantarkan wahyu kepada seorang Nabi,

juga memiliki berbagai cara dalam menyampaikan, sebagian di antaranya :

Yang pertama, dan ini merupakan cara terberat yang di rasakan oleh Rasulullah SAW,

Malaikat Jibril datang menemuinya laksana suara gemerencing lonceng yang sangat keras,

dan tentunya suara yang sangat keras, yang terdengar secara tiba-tiba akan menimbulkan ekspresi-ekspresi kepanikan,

sehingga orang yang mendengarkannya dengan seluruh kekuatan yang ia miliki harus betul-betul siap menerima

sekaligus mengatasi dampaknya, seperti gemetar hebat, gugup dan sulit untuk fokus menerima apa yang sedang di sampaikan.

Yang kedua, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dengan wujud manusia, menyamar menjadi seorang laki-laki yang tampan.

2-Tanpa melalui perantara Malaikat Jibril

Allah menurunkan wahyu secara langsung tanpa melalui perantara Malaikat wahyu, dengan cara :

Pertama Menurunkannya melalui sebuah mimpi yang baik di dalam tidur seorang Nabi ataupun melalui ilham.

Kedua memberikan Kalam Ilahi kepada seorang Nabi dari belakang tabir dan dalam keadaan terjaga.

Kalimat “Dari belakang tabir” memiliki sebuah penafsiran bahwa Allah SWT memperkenankan seorang Nabi untuk bisa mendengarkan perkataan-Nya,

namun tidak memperkenankan untuk bisa melihat wujud-Nya. Dan ini yang pernah yang pernah terjadi kepada Nabi Musa AS.

Syubhat-syubhat Para Penentang Wahyu

Di zaman dahulu maupun sekarang, orang-orang bodoh yang mengingkari ke mukjizatan Al-Qur’an,

selalu berusaha menimbulkan keraguan-keraguan (syubhat) mengenai wahyu Allah di kalangan kaum muslimin,

BACA JUGA 👉  Pengertian Al Qur'an dan Hadis Qudsi

mereka melakukan hal demikian semata-mata karena keangkuhan dan kesombongan dalam hati mereka untuk menerima kebenaran wahyu Al-Qur’an,

padahal keraguan-keraguan mengenai Al-Qur’an yang mereka lontarkan selalu saja lemah dan terbantahkan.

Berikut ini sebagian dari syubhat-syubhat yang di kemukakan oleh mereka sekaligus bantahannya :

1.Mereka berasumsi bahwa Al-Qur’an bukanlah wahyu yang di turunkan, melainkan dari pribadi Nabi Muhammad SAW (Made In Muhammad), artinya mereka menganggap Muhammad sendiri yang telah menciptakan makna-makna Al-Qur’an serta gaya bahasa di dalamnya.

Ini adalah asumsi yang batil. Di karena kan seandainya saat itu Nabi Muhammad SAW menghendaki sebuah kekuasaan untuk dirinya sendiri, dan memberikan tantangan kepada manusia dengan mukjizat-mukjizat guna mendukung hasrat kekuasaannya, Maka seharusnya Ia tidak perlu lagi menisbatkan semua mukjizat-mukjizatnya kepada yang lain (Allah SWT),

bisa saja Ia langsung menisbatkan semuanya termasuk Al-Qur’an kepada dirinya, di mana langkah tersebut akan cukup untuk mengangkat popularitasnya.

Namun faktanya Rasulullah SAW tidak melakukan hal demikian, mencari kesempatan dengan menaikkan popularitas melalui mukjizat-mukjizat yang telah ia terima dari Allah SWT demi sebuah kekuasaan agar orang lain tunduk kepadanya serta mengakui kehebatannya.

2.Orang-orang bodoh di zaman dahulu maupun sekarang beranggapan bahwa Al-Qur’an tidak lain hanya merupakan hasil dari pemahaman pemikiran dan kecerdasan intelektual yang di ungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan gaya bahasa serta metode penjelasan darinya.

Asumsi ini adalah hal yang mustahil, karena Al-Qur’an tidak bergantung pada kecerdasan, pemahaman yang hebat, serta naluri perasaan yang kuat.

Dan mana mungkin Nabi Muhammad SAW mampu untuk menyampaikan peristiwa-peristiwa yang samar, angka-angka perhitungan yang tepat,

pengetahuan-pengetahuan mendetail tentang awal dan akhir penciptaan, seumpama Nabi tidak di beri wahyu oleh Allah SWT.

BACA JUGA 👉  Tips menghafal Al-Qur'an

Sementara faktanya Nabi Muhammad SAW adalah seseorang yang tidak mampu membaca dan menulis (Al-Ummiy).

3.Orang-orang bodoh di zaman dahulu maupun sekarang beranggapan bahwa Nabi Muhammad SAW mendapatkan pengetahuan tentang Al-Qur’an dengan cara belajar dari seorang guru,

anggapan ini bisa di benarkan apabila guru yang di maksud adalah Malaikat pengantar wahyu (Jibril),

namun apabila guru yang di kehendaki adalah seseorang dari kaumnya atau dari bangsa yang lain, maka tidak bisa di benarkan,

sekali lagi dikarenakan Nabi Muhammad SAW tumbuh dan berkembang hingga wafatnya,

dengan keadaan tidak bisa membaca tulisan dan menulis sebuah tulisan sepanjang hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hubungi Kami
Hubungi Kami